Hujan yang Membawa Pulang Hujan turun tanpa aba-aba sore itu. Langit yang sejak siang tampak murung akhirnya menyerah, menjatuhkan rintiknya satu per satu ke bumi yang sudah lama menunggu. Arga berdiri di bawah halte tua, memandang jalanan yang perlahan basah. Orang-orang berlarian mencari tempat berteduh, sebagian menggerutu, sebagian lagi hanya pasrah. Tapi tidak dengan Arga. Ia justru menyukai hujan. Hujan selalu mengingatkannya pada sesuatu—atau lebih tepatnya, seseorang. Namanya Nara. Dulu, mereka sering berjalan bersama di bawah hujan tanpa payung. Nara selalu tertawa kecil setiap kali Arga mencoba melindunginya dengan tas atau jaket yang jelas-jelas tidak cukup. “Biarkan saja,” katanya, “hujan itu bukan musuh.” Sejak Nara pergi, hujan terasa berbeda. Bukan lagi tentang tawa, ...