Hujan yang Membawa Pulang
Hujan turun tanpa aba-aba sore itu. Langit yang sejak siang tampak murung akhirnya menyerah, menjatuhkan rintiknya satu per satu ke bumi yang sudah lama menunggu.
Arga berdiri di bawah halte tua, memandang jalanan yang perlahan basah. Orang-orang berlarian mencari tempat berteduh, sebagian menggerutu, sebagian lagi hanya pasrah. Tapi tidak dengan Arga. Ia justru menyukai hujan.
Hujan selalu mengingatkannya pada sesuatu—atau lebih tepatnya, seseorang.
Namanya Nara.
Dulu, mereka sering berjalan bersama di bawah hujan tanpa payung. Nara selalu tertawa kecil setiap kali Arga mencoba melindunginya dengan tas atau jaket yang jelas-jelas tidak cukup. “Biarkan saja,” katanya, “hujan itu bukan musuh.”
Sejak Nara pergi, hujan terasa berbeda. Bukan lagi tentang tawa, tapi tentang kenangan yang tak bisa diulang.
Sore itu, Arga hampir saja pulang ketika ia melihat sosok yang begitu familiar di seberang jalan. Seorang perempuan berdiri di bawah payung transparan, menatap hujan dengan cara yang sama seperti dulu.
Jantung Arga berdegup lebih cepat.
“Nara...?” gumamnya pelan, hampir tidak percaya.
Lampu lalu lintas berubah merah. Tanpa pikir panjang, Arga melangkah menyeberang, menerobos rintik hujan yang kini semakin deras. Setiap langkah terasa seperti kembali ke masa lalu—ke hari-hari ketika semuanya masih sederhana.
Perempuan itu menoleh.
Dan waktu seakan berhenti.
“Itu kamu, Ga?” suaranya lembut, sama seperti yang Arga ingat.
Arga tersenyum, sedikit gugup. “Aku kira... kamu sudah jauh.”
Nara menggeleng pelan. “Aku memang pergi. Tapi ternyata, ada hal yang selalu memanggilku pulang.”
Hujan masih turun, tapi kali ini terasa hangat.
Mereka berdiri berhadapan, dipisahkan oleh payung yang perlahan diturunkan. Tidak ada lagi jarak, tidak ada lagi kata-kata yang tertahan.
Karena terkadang, yang dibutuhkan bukanlah waktu untuk melupakan—melainkan keberanian untuk kembali.
Dan di bawah hujan yang sama, mereka akhirnya menemukan jalan pulang.

Komentar
Posting Komentar