Langsung ke konten utama

Yang Pergi Bukan Cuma Kamu

 




Yang Pergi Bukan Cuma Kamu

Hujan turun pelan di kota yang terlalu sibuk untuk peduli pada orang patah hati. Lampu toko masih menyala, motor masih berlalu-lalang, dan orang-orang tetap tertawa di warung kopi kecil dekat halte. Semuanya berjalan normal, kecuali satu orang: Raka.

Setiap malam, Raka punya kebiasaan aneh. Dia naik bus kota terakhir tanpa tujuan. Bukan karena ingin pergi jauh, tapi karena di dalam bus itu, tak ada yang bertanya kenapa matanya sembab atau kenapa dia terus melihat notifikasi kosong di ponselnya.

Sampai suatu malam, ada perempuan tua duduk di sebelahnya.

Perempuan itu membawa banyak balon warna-warni, padahal hujan deras dan jalanan sepi. Aneh sekali melihat seseorang menjual balon tengah malam.

“Kamu lagi kehilangan seseorang ya?” tanyanya tiba-tiba.

Raka cuma tersenyum kecil. “Kelihatan banget?”

“Orang yang ditinggal biasanya matanya kayak rumah habis kebakaran. Masih berdiri, tapi hangus.”

Kalimat itu menamparnya lebih keras dari kenyataan mana pun.

Raka menatap keluar jendela. Bayangan mantannya muncul di kaca bus yang basah. Tentang janji yang dulu terdengar abadi, tentang chat panjang yang sekarang cuma jadi arsip, dan tentang perasaan yang ternyata bisa mati pelan-pelan tanpa suara.

“Apa pernah sembuh?” tanya Raka lirih.

Perempuan tua itu mengikat satu balon merah lalu memberikannya.

“Enggak. Luka tertentu nggak sembuh. Kita cuma belajar hidup tanpa menyentuhnya terus-menerus.”

Bus berhenti di lampu merah. Saat Raka menoleh lagi, perempuan tua itu sudah turun entah sejak kapan. Tinggal satu hal yang membuat Raka diam lama:

Tak ada satu pun penumpang lain yang tadi melihat perempuan itu.

Supir bus bahkan bilang sejak terminal awal, Raka naik sendirian.

Raka menggenggam balon merah di tangannya dengan napas gemetar.

Di tali balon itu, ada tulisan kecil dengan tinta hitam:

"Kadang yang paling susah dilupakan bukan orangnya, tapi versi diri kita saat masih dicintai."

Dan malam itu, untuk pertama kalinya, Raka menangis bukan karena ingin dia kembali.

Tapi karena sadar… dirinya yang dulu juga sudah pergi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

HUJAN YANG MEMBAWA PULANG

HUJAN YANG MEMBAWA PULANG Hujan turun tanpa aba-aba sore itu. Langit yang sejak siang tampak murung akhirnya menyerah, menjatuhkan rintiknya satu per satu ke bumi yang sudah lama menunggu. Arga berdiri di bawah halte tua, memandang jalanan yang perlahan basah. Orang-orang berlarian mencari tempat berteduh, sebagian menggerutu, sebagian lagi hanya pasrah. Tapi tidak dengan Arga. Ia justru menyukai hujan. Hujan selalu mengingatkannya pada sesuatu—atau lebih tepatnya, seseorang. Namanya Nara. Dulu, mereka sering berjalan bersama di bawah hujan tanpa payung. Nara selalu tertawa kecil setiap kali Arga mencoba melindunginya dengan tas atau jaket yang jelas-jelas tidak cukup. “Biarkan saja,” katanya, “hujan itu bukan musuh.” Sejak Nara pergi, hujan terasa berbeda. Bukan lagi tentang tawa, tapi tentang kenangan yang tak bisa diulang. Sore itu, Arga hampir saja pulang ketika ia melihat sosok yang begitu familiar di seberang jalan. Seorang perempuan berdiri di bawah payung transparan, mena...